Langsung ke konten utama

Lima Hari di Laboratorium Koreografi


Choreo-Lab "Process in Progress" merupakan salah satu rangkaian dari program Dewan Kesenian Jakarta dalam bidang tari.  Tahun ini, Choreo-Lab "Process in Progress" jilid 2 memilih tiga koreografer muda untuk mengikuti workshop pada 2-5 Juni 2015 di Studio Hanafi, Depok. Tiga koreografer terpilih adaral Ari Ersandi (Yogyakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Moh Hariyanto (Surabaya). Fasilitaror dan materi workshop diberikan oleh Hanafi (perupa), Suprapto Suryodarmo (penemu sistem gerak Amerta), dan Lawe (komposer)

note: click untuk melihat liputan dari media Indopos 

indopos.co.id – Tiga koreografer terpilih mengikuti Choreo-Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Studio Hanafi, Depok. Mereka adalah Ari Ersandi (Jogjakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Hari Ghulur (Surabaya). Selama lima hari sejak Senin lalu mereka mengikuti Choreo-Lab dengan pemateri Suprapto Suyodarmo, Lawe, dan Hanafi. Layaknya sebuah laboratorium para peserta Choreo-Lab membawa masing-masing karya sebagai bahan untuk didedah bersama. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/06/lima-hari-di-laboratorium-koreografi.html#sthash.ic9vQVnH.dpuf
indopos.co.id – Tiga koreografer terpilih mengikuti Choreo-Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Studio Hanafi, Depok. Mereka adalah Ari Ersandi (Jogjakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Hari Ghulur (Surabaya). Selama lima hari sejak Senin lalu mereka mengikuti Choreo-Lab dengan pemateri Suprapto Suyodarmo, Lawe, dan Hanafi. Layaknya sebuah laboratorium para peserta Choreo-Lab membawa masing-masing karya sebagai bahan untuk didedah bersama. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/06/lima-hari-di-laboratorium-koreografi.html#sthash.ic9vQVnH.dpuf
indopos.co.id – Tiga koreografer terpilih mengikuti Choreo-Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Studio Hanafi, Depok. Mereka adalah Ari Ersandi (Jogjakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Hari Ghulur (Surabaya). Selama lima hari sejak Senin lalu mereka mengikuti Choreo-Lab dengan pemateri Suprapto Suyodarmo, Lawe, dan Hanafi. Layaknya sebuah laboratorium para peserta Choreo-Lab membawa masing-masing karya sebagai bahan untuk didedah bersama.
Hari Ghulur membawa Ghulur, Ginta Pramana menghadirkan Ndemi Kuta Kita, dan Ari Ersandi menampilkan Pintu. Pada hari pertama Choreo-Lab para peserta menunjukkan karya masigmasing untuk dicermati bersama dengan para pemateri. Video percakapan Suprapto dan Hanafi yang direkam khu sus sebelum rangkaian Choreo-Lab lalu menjadi sajian berikutnya. Proses itu kemudian berlanjut dengan diskusidiskusi intens dengan tiga pemateri.
Suprapto Suryodarmo mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali hakekat dari apa yang wujud, dan Hanafi menyodorkan bagaimana sebuah koreografi sejatinya adalah rupa hingga semestinya bukan melulu gerak tubuh semata jadi perhatian seorang koreografer sedangkan Lawe menegaskan musik dalam pertunjukan sejatinya bukan sekadar rangkaian nada melainkan peristiwa bunyi.
’’Setelah mengikuti Choreo-Lab para peserta akan kembali berproses dengan masing-masing karya,’’ kata Helly Mi narti dari Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Menurutnya, hasil pertemuan karya para peserta dengan materi dalam Choreo-Lab nantinya di pentaskan pada September mendatang. Pertunjukan tersebut tidak berupa satu karya bersama, melainkan tetap karya masing-masing. Sentuhan dengan materi- materi dari Choreo-Lab diharapkan mampu meluaskan horizon eksplorasi estetik dan artistik tiap peserta pada karya koreografi mereka.
Di sepanjang Choreo-Lab, para peserta setiap hari intens teribat dalam pembahasan-pembahasan konseptual hingga yang praktis bersama para pemateri. Proses intens yang tak terganggu dengan persoalan di luar kerja-kerja kesenian semacam itu secara otomatis menjadikan peserta fo kus dengan segala aktivitas Choreo- Lab. Menurut Helly, ruang eksplorasi kreatif yang steril dari godaan di luar proses itu sendiri termasuk sulit ditemukan oleh para pelaku seni di kotakota metropolitan Indonesia.
’’Tidak mudah mendapat ruang proses di Jakarta yang bisa lepas dari godaan jalan-jalan ke mall,’’ seloroh Helly. Usai Choreo-Lab Jumat lalu, Hari Ghulur menyebut pada September nanti akan membawakan Ghulur dengan narasi dan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Lalu, Ari Ersandi menyajikan Pintu Menusia, dan Gintar Pramana Ginting meng usung lagi Ndemi Kuta Kita. ’’Ruang seperti Cho reo-Lab sangat penting bagi kami. Ada hal baru dan mendasar dalam materi-materi yang diberikan,’’ kata Ari.
Choreo-Lab dari Dewan Kesenian Jakarta sejatinya adalah metamorfosis dari program sejenis di masa sebelumnya seperti Pekan Penata Tari Muda (1979- 1981) dan The Next Traces (2006). Sesuai judulnya, Choreo-Lab lebih mementingkan proses kelindan antara pemateri dan ranah kreatif masing-masing koreografer daripada hasil akhirnya nanti. Setiap tahun, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta melakukan seleksi kepada karya- karya para koreografer Indonesia sebelum memutuskan siapa yang dapat meng ikuti program ini. (tir)
- See more at: http://www.indopos.co.id/2015/06/lima-hari-di-laboratorium-koreografi.html#sthash.ic9vQVnH.dpuf
indopos.co.id – Tiga koreografer terpilih mengikuti Choreo-Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Studio Hanafi, Depok. Mereka adalah Ari Ersandi (Jogjakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Hari Ghulur (Surabaya). Selama lima hari sejak Senin lalu mereka mengikuti Choreo-Lab dengan pemateri Suprapto Suyodarmo, Lawe, dan Hanafi. Layaknya sebuah laboratorium para peserta Choreo-Lab membawa masing-masing karya sebagai bahan untuk didedah bersama.
Hari Ghulur membawa Ghulur, Ginta Pramana menghadirkan Ndemi Kuta Kita, dan Ari Ersandi menampilkan Pintu. Pada hari pertama Choreo-Lab para peserta menunjukkan karya masigmasing untuk dicermati bersama dengan para pemateri. Video percakapan Suprapto dan Hanafi yang direkam khu sus sebelum rangkaian Choreo-Lab lalu menjadi sajian berikutnya. Proses itu kemudian berlanjut dengan diskusidiskusi intens dengan tiga pemateri.
Suprapto Suryodarmo mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali hakekat dari apa yang wujud, dan Hanafi menyodorkan bagaimana sebuah koreografi sejatinya adalah rupa hingga semestinya bukan melulu gerak tubuh semata jadi perhatian seorang koreografer sedangkan Lawe menegaskan musik dalam pertunjukan sejatinya bukan sekadar rangkaian nada melainkan peristiwa bunyi.
’’Setelah mengikuti Choreo-Lab para peserta akan kembali berproses dengan masing-masing karya,’’ kata Helly Mi narti dari Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Menurutnya, hasil pertemuan karya para peserta dengan materi dalam Choreo-Lab nantinya di pentaskan pada September mendatang. Pertunjukan tersebut tidak berupa satu karya bersama, melainkan tetap karya masing-masing. Sentuhan dengan materi- materi dari Choreo-Lab diharapkan mampu meluaskan horizon eksplorasi estetik dan artistik tiap peserta pada karya koreografi mereka.
Di sepanjang Choreo-Lab, para peserta setiap hari intens teribat dalam pembahasan-pembahasan konseptual hingga yang praktis bersama para pemateri. Proses intens yang tak terganggu dengan persoalan di luar kerja-kerja kesenian semacam itu secara otomatis menjadikan peserta fo kus dengan segala aktivitas Choreo- Lab. Menurut Helly, ruang eksplorasi kreatif yang steril dari godaan di luar proses itu sendiri termasuk sulit ditemukan oleh para pelaku seni di kotakota metropolitan Indonesia.
’’Tidak mudah mendapat ruang proses di Jakarta yang bisa lepas dari godaan jalan-jalan ke mall,’’ seloroh Helly. Usai Choreo-Lab Jumat lalu, Hari Ghulur menyebut pada September nanti akan membawakan Ghulur dengan narasi dan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Lalu, Ari Ersandi menyajikan Pintu Menusia, dan Gintar Pramana Ginting meng usung lagi Ndemi Kuta Kita. ’’Ruang seperti Cho reo-Lab sangat penting bagi kami. Ada hal baru dan mendasar dalam materi-materi yang diberikan,’’ kata Ari.
Choreo-Lab dari Dewan Kesenian Jakarta sejatinya adalah metamorfosis dari program sejenis di masa sebelumnya seperti Pekan Penata Tari Muda (1979- 1981) dan The Next Traces (2006). Sesuai judulnya, Choreo-Lab lebih mementingkan proses kelindan antara pemateri dan ranah kreatif masing-masing koreografer daripada hasil akhirnya nanti. Setiap tahun, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta melakukan seleksi kepada karya- karya para koreografer Indonesia sebelum memutuskan siapa yang dapat meng ikuti program ini. (tir)
- See more at: http://www.indopos.co.id/2015/06/lima-hari-di-laboratorium-koreografi.html#sthash.ic9vQVnH.dpuf
indopos.co.id – Tiga koreografer terpilih mengikuti Choreo-Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Studio Hanafi, Depok. Mereka adalah Ari Ersandi (Jogjakarta), Gintar Pramana Ginting (Jakarta), dan Hari Ghulur (Surabaya). Selama lima hari sejak Senin lalu mereka mengikuti Choreo-Lab dengan pemateri Suprapto Suyodarmo, Lawe, dan Hanafi. Layaknya sebuah laboratorium para peserta Choreo-Lab membawa masing-masing karya sebagai bahan untuk didedah bersama.
Hari Ghulur membawa Ghulur, Ginta Pramana menghadirkan Ndemi Kuta Kita, dan Ari Ersandi menampilkan Pintu. Pada hari pertama Choreo-Lab para peserta menunjukkan karya masigmasing untuk dicermati bersama dengan para pemateri. Video percakapan Suprapto dan Hanafi yang direkam khu sus sebelum rangkaian Choreo-Lab lalu menjadi sajian berikutnya. Proses itu kemudian berlanjut dengan diskusidiskusi intens dengan tiga pemateri.
Suprapto Suryodarmo mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali hakekat dari apa yang wujud, dan Hanafi menyodorkan bagaimana sebuah koreografi sejatinya adalah rupa hingga semestinya bukan melulu gerak tubuh semata jadi perhatian seorang koreografer sedangkan Lawe menegaskan musik dalam pertunjukan sejatinya bukan sekadar rangkaian nada melainkan peristiwa bunyi.
’’Setelah mengikuti Choreo-Lab para peserta akan kembali berproses dengan masing-masing karya,’’ kata Helly Mi narti dari Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Menurutnya, hasil pertemuan karya para peserta dengan materi dalam Choreo-Lab nantinya di pentaskan pada September mendatang. Pertunjukan tersebut tidak berupa satu karya bersama, melainkan tetap karya masing-masing. Sentuhan dengan materi- materi dari Choreo-Lab diharapkan mampu meluaskan horizon eksplorasi estetik dan artistik tiap peserta pada karya koreografi mereka.
Di sepanjang Choreo-Lab, para peserta setiap hari intens teribat dalam pembahasan-pembahasan konseptual hingga yang praktis bersama para pemateri. Proses intens yang tak terganggu dengan persoalan di luar kerja-kerja kesenian semacam itu secara otomatis menjadikan peserta fo kus dengan segala aktivitas Choreo- Lab. Menurut Helly, ruang eksplorasi kreatif yang steril dari godaan di luar proses itu sendiri termasuk sulit ditemukan oleh para pelaku seni di kotakota metropolitan Indonesia.
’’Tidak mudah mendapat ruang proses di Jakarta yang bisa lepas dari godaan jalan-jalan ke mall,’’ seloroh Helly. Usai Choreo-Lab Jumat lalu, Hari Ghulur menyebut pada September nanti akan membawakan Ghulur dengan narasi dan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Lalu, Ari Ersandi menyajikan Pintu Menusia, dan Gintar Pramana Ginting meng usung lagi Ndemi Kuta Kita. ’’Ruang seperti Cho reo-Lab sangat penting bagi kami. Ada hal baru dan mendasar dalam materi-materi yang diberikan,’’ kata Ari.
Choreo-Lab dari Dewan Kesenian Jakarta sejatinya adalah metamorfosis dari program sejenis di masa sebelumnya seperti Pekan Penata Tari Muda (1979- 1981) dan The Next Traces (2006). Sesuai judulnya, Choreo-Lab lebih mementingkan proses kelindan antara pemateri dan ranah kreatif masing-masing koreografer daripada hasil akhirnya nanti. Setiap tahun, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta melakukan seleksi kepada karya- karya para koreografer Indonesia sebelum memutuskan siapa yang dapat meng ikuti program ini. (tir)
- See more at: http://www.indopos.co.id/2015/06/lima-hari-di-laboratorium-koreografi.html#sthash.ic9vQVnH.dpuf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tari Kreasi Karo "Mejuah-Juah" (Cililitan Cup IV) 2014

Tari Kreasi "Mejuah-Juah" merupakan salah satu kreasi tari baru garapan koreografer Gintar Pramana Ginting yang mencoba menginterpretasikan makna dari lirik lagu ciptaan Alm. Djaga Depari yang dinyanyikan oleh Juliana br. Tarigan bersama Alasen Barus. Karya tari kreasi Karo ini diciptakan sebagai materi untuk mengikuti lomba seni tari dalam acara Cililitan Cup IV yang di prakarsai oleh Permata GBKP Runggun Cililitan Jakarta. Sinopsis: Kebersamaan dalam makna "Mejuah-Juah". Menjadi berkat bagi kita. Sebagai pemersatu dalam ikatan kekeluargaan. Ersurak Mejuah-Juah!  Musik: "Mejuah-Juah" Cipt. Alm. Djaga Depari Voc. Juliana br. Tarigan & Alasen Barus Penata Tari: Gintar Pramana Ginting Penari: Lia Natalia, Egi Prisilia, Ribka, Etha Torong, Lia Natalia br. Tarigan, Kenny br. Tarigan, Edho Surbakti, Andre Sebayang, Gerry, Ardianta, Yudi Tarigan Clip: Adegan Penutup Clip: bagian landek patam-patam...

Choreo-Lab 'Process in Progress', "Ndemi Ku Kita" karya Gintar Pramana Ginting

Jakarta Arts Council Present Choreo-Lab 'Process in Progress' #2 "Ndemi Ku Kita" -Sebagai Pelengkap di antara Aku dan Kita" Koreografer: Gintar Pramana Ginting Dokumentasi Proses Latihan

"SORA MIDO" #PrayForSinabung

"SORA MIDO" #PrayForSinabung Karya Widya Ayu Trisna Sora Mido yang memiliki arti suara rintihan merupakan sebuah karya tari yang terinsipirasi dari kejadian nyata. Sebuah cerita mengenai perjuangan seorang ibu kepada anaknya di tengah bencana letusan gunung Sinabung yang semenjak hampir lima tahun masih terus bergejolak hingga saat ini. Sora Mido berangkat dari nafas tradisi suku Karo yang kemudian di kembangkan menjadi sebuah garapan karya tari kontemporer. Karya tari ini diciptakan sebagai salah satu materi ujian akhir untuk meraih gelar Strata Satu (S1) pada Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta. . Karya tari ini di pentaskan pertama kali pada hari Selasa, 28 Agustus 2015 di Gedung Tari lt.3 FSP IKJ pada hari. Penari: Gintar Pramana Ginting, Yusuf Purnama, Festi Fayara Putri, Densiel Prismayanti Lebang,, dan Ismay. Pemusik: Arif Susanto dan Yoel Kaban Artistik: Paulizki Project Officer: Deddy Hendrawan Produksi: Pur...